Kunjungan Bapak Anies ke KJRI Hamburg

Oleh: 

PPI Göttingen

Kunjungan Bapak Mendikbud Indonesia, Anies Baswedan

 

Selasa, 28 Juni 2016 merupakan hari dimana perwakilan PPI, organisasi keagamaan di wilayah kerja KJRI Hamburg dikumpulkan dalam sebuah acara berbuka puasa dan silaturrahmi bersama Bapak Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Budaya RI. Bapak Menteri Anies tiba di KJRI Hamburg tepat pukul 21:15 CEST setelah berkunjung dari Bonn. Di dalam kunjungannya, beliau berkehendak untuk melanjutkan dan menindaklanjuti salah satu misi Bapak Presiden Indonesia, Joko Widodo dalam kunjungannya ke Berlin tempo hari (silahkan lihat http://www.ppi-goettingen.de/berita/kunjungan-kenegaraan-presiden-joko-widodo-berlin-18-april-2016) mengenai kerjasama sekolah kejuruan di Indonesia-Jerman.

Hal ini penting mengingat di Indonesia, lulusan SMK tidak dipandang utama dan dapat dikatakan tidak memiliki kesetaraan dengan SLTA lain seperti SMA. Sementara di Jerman sekolah kejuruan sudah tersistematis dan lulusannya cukup banyak yang melanjutkan ke FH dan setiap individunya memiliki kompetensi unik dan seyogyanya dapat berkiprah di industri. Hal menarik yang saya temui adalah mengapa Bapak Anies berkunjung ke Hamburg dan bukan kota lainnya, adalah dikarenakan pusat sekolah Vokasi Jerman terletak di Hamburg, walaupun terdapat juga di beberapa kota lainnya seperti Berlin, Frankfurt am Main dan Stuttgart.

Hal lain yang beliau sampaikan kepada para audiens adalah bagaimana saat ini Indonesia menginvestasikan “dana” mereka untuk membangun dua infrastruktur penting: hard dan soft infrastructure. Hard merupakan infrastruktur yang dapat dilihat secara fisik seperti gedung, irigasi dan power plant, sedangkan soft merupakan manusia Indonesia yang kelak akan berkontribusi dalam pembangunan Indonesia kelak. Analoginya adalah sebaik apapun sebuah senjata, apabila penggunannya tidak memiliki kompetensi yang baik dalam menggunakan senjata tersebut, maka tidak akan mendapat hasil yang baik.

Pesan terakhir yang beliau sampaikan adalah bagaimana Kesatuan Indonesia bisa dicapai, diantaranya:

1. Indonesia bertumpah darah satu, tanah air Indonesia (Isi Sumpah pemuda yang pertama)

2. Indonesia berberbangsa satu, bangsa Indonesia (Isi Sumpah pemuda yang kedua)

3. Indonesia berbahasa satu, bahasa Indonesia (Isi Sumpah pemuda yang ketiga)

4. Indonesia bersatu sebagai sebuah negara à dalam Teks Proklamasi

5. Indonesia sebagai satu teritori -> diutarakan oleh Juanda

6. Satu Harga Indonesia -> saat ini sedang dalam proses, sebagai contoh setiap komoditas, pangan yang ada di Indonesia, harus memiliki harga yang sama

 

Laporan: Argianto Rahartomo (PPI Göttingen 2016/2017)