Error message

  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).

Melawan Ketakutan: Jalani Saja!

Oleh: 

Dhani

Sebagaimana halnya yang pernah dialami oleh banyak orang, keberangkatan ke Jerman akhir Januari kemarin menimbulkan perasaan cemas dan takut pada diri saya. Apalagi sebelumnya saya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di negeri orang;satukalipun. Bahkan Malaysia-Singapura yang dekat pun belum! Dan ketika kesempatan itu hadir, maka cemas dan takut itu pun muncul begitu nyata. Eropa dan musim dingin! Kata pak Akhmad Hidayatno di jaman saya masih belajar sama beliau (sekarang pun masih): ketika seseorang masuk ke tempat yang baru, maka tubuhnya akan merasa bingung dan tidak terbiasa dengan kondisi yang tidak dia kenal, adrenalinnya meningkat, sehingga perasaan cemas pun muncul. Lalu apa karena itu saya tidak jadi berangkat ke Jerman?

“Fear just can’t be trusted. Ketakutan bisa sangat meyakinkan sehingga segala hal yang seharusnya mudah bisa jadi sangat sulit atau bahkan tidak mungkin. Apakah khawatir bangkrut = jangan pernah jadi entrepreneur? Apakah risiko pesawat jatuh = jangan pernah naik pesawat? Apakah ketakutan dimarahi Bos = katakan dan lakukan segala hal yang membuatnya senang?” (Rene Suhardono)

Seperti kata pak Rene, ketakutan tidak bisa kita percayai. So, how to overcome it? Kunci jawaban dari itu semua, menurut saya, “Jalani saja”. Kata-kata itu saya dapat dari ceramahnya Aa Gym, setahun yang lalu di Gottingen; yang saya temukan di YouTube, sehari setelah saya tiba.
Tidak ingatkah kita akan kalam Allah subhaanahuu wata a’la:
QS Al-Insyirah: 5
Karena sesudah kesulitan ada kemudahan”
Bahkan sampai diulang 2 kali: “Sesudah kesulitan ada kemudahan” (ayat 6).
Kunci untuk menghadirkan 2 kali kemudahan yang Allah janjikan itu adalah, “Jalani saja”. Selama kita yakin apa yang kita jalani itu benar dan baik buat kita, mengapa harus berhenti?
Saya takut dengan suhu yang dingin. Di ruangan kerja di kampus, dengan suhu AC yang 18 derajat saja, bisa membuat saya merasa tidak nyaman, bahkan pilek. Hampir setiap hari AC ruangan kerja saya selalu saya matikan. Bagaimana saya bisa menghadapi suhu 0 derajat? Dan ketakutan itupun menjadi “kenyataan”. Sekeluarnya dari Bandara Frankfurt am Main, langsung saya merasakan suhu dingin itu, di bawah 10 derajat! Sesampainya di Gottingen, “Aduh, lebih dingin lagi!” (makasih buat tandem Mas Edi-Mas Agung yang telah dengan sigap menyelamatkan saya). Dan tahukah teman-teman; Jerman tahun ini mengalami, “Mist Wetter”. Di saat seharusnya sudah masuk musim semi di awal Maret; bahkan sudah sempat panas 2-3 hari, tiba-tiba suhu drop sampai -11 derajat.

Dingin? Banget. Males keluar? So pasti. Kulit kering, pecah-pecah, lecet, dan masih banyak lagi.
But somehow, Allah save me. Alhamdulillah saya lancar dalam beraktivitas. Belum pernah sakit yang harus sampai bedress.Hidungnya tidak mampet (meler iya), dan seterusnya. Allah memudahkan tubuh saya untuk berkenalan dengan si “tuan rumah”. Bahkan ketika tulisan ini dibuat, saya sudah sempat keluar kota 3 kali.
Ketakutan yang lain: makanan halal, jauh dari komunitas Islam, susah untuk sholat Jumat. Dan lagi-lagi Allah memberikan jalan keluar untuk ini: Allah pilihkan untuk saya (melalui Goethe) sebuah tempat tinggal yang sangat strategis; di Philip Reis Strasse:
- Satu gedung dengan mas Afik, teman satu perjalanan dari Indonesia
- Dekat dengan Masjid Al-Iman (5-7 menit jalan kaki)
- Dekat dengan Toko Halal Al-Iman; sangat memudahkan untuk mencari daging halal. (posisi: sebelah masjid Al-Iman)
  Di belakang Penny Supermarkt (bisa beli sayur segar dan… Donnertasche. He…he…)
- Dekat dengan Haltesstelle. Jadi ke Goethe buat kursus jadi mudah.
- Dan yang ini gak kalah penting: dekat dengan rumah ketua PPI (baik mas Edy dan mas Adnan) dan ketua pengajian Gottingen-KALAM (mas Agung).
Dengan itu semua, Allah bantu saya untuk menjaga agama saya. Saya tidak mengalami kesulitan untuk sholat di masjid, mudah hadir di pengajian bulanan KALAM Goettingen, dan masih banyak lagi bantuan dari Allah perihal ini (sayanya saja yang kurang bersyukur, sehingga bantuan dari Allah sering saya sia-siakan. Hiks).
Last but not least, ketakutan terhadap culture shock. Saya yang biasanya sulit cair, deg-degan kalau berkenalan dengan orang yang super baru, dimudahkan oleh Allah untuk punya cukup banyak teman di sini. Dan jadi akrab dengan mereka: orang Tanzania yang selalu mengingatkan sholat di masjid, teman jalan pulang dari Brasil, kenalan professional dari Italia, teman-teman Libya (setengah kelas di Goethe isinya orang Libya) yang selalu membuat kelas seru dan ramai, dan 2 orang lehrerin yang begitu baik dalam mengajar dan toleran untuk mengizinkan saya untuk pulang cepat tuk sholat Jum’at.
Masih banyak tantangan lain yang bakal saya hadapi di Jerman. Dari itu semua, saya ingin mengatakan, ketakutan itu alami, tetapi selama kita yakin kita mengambil keputusan yang benar, jalani saja. Tentu tidak dengan melupakan hal penting lainnya: jalanilah dengan perencanaan yang terbaik.
Sumber: http://coratcoretdhani.wordpress.com