Error message

  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).

Nonton Bareng dan Talkshow Bersama Prof. B.J. Habibie di Hamburg

Oleh: 

Puspi

Siapa yang belum menonton film Ainun dan Habibie? Sejak pertama kali bukunya diterbitkan, cerita ini sudah mengambil tempat tersendiri di hati para pembacanya. Sebanyak 65.000 eksemplar terjual sejak tiga bulan pertama penerbitan. Di Indonesia saja filmnya sudah ditonton oleh 3 juta orang. Belum lagi bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Jerman, inggris dan Jepang.

Pada 11 Mei 2013 yang lalu, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg bidang Sosial Budaya bekerja sama dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hamburg mengadakan acara nonton bareng film ini dan talkshow langsung bersama Pak Habibie. Acara yang mengambil lokasi di Aula KJRI Hamburg ini dihadiri sedikitnya 200 orang yang terdiri dari warga negara Indonesia dan warga negara asing.

Acara nonton bareng dimulai pada pukul 15.00. Pak Habibie baru tiba di aula setengah jam kemudian. Begitu tiba, beliau dengan senyumnya yang ramah sambil melambaikan tangan mengambil tempat di kursi yang telah disediakan dan ikut menonton bareng bersama undangan. Sepanjang pemutaran film, semua pandangan terfokus pada layar. Bahkan ketika memasuki adegan saat-saat terakhir sebelum Ibu Ainun menghembuskan nafas terakhir, tidak sedikit yang terlihat meneteskan air mata. Pak Habibie sendiri, tertangkap kamera gelisah sepanjang menonton film. Di bagian akhir cerita, beliau juga tidak luput dari meneteskan air mata.

Pukul 17.00, acara dilanjutkan dengan talkshow bersama Pak Habibie. Satu hal yang khas sekali dari beliau adalah gaya tertawa yang selalu riang dan lepas. Kalau sudah begini, acungan jempol buat Reza Rahardian yang meniru persis gaya tertawa beliau. Talkshow dibuka dengan satu pertanyaan yang berasal dari salah seorang undangan yang menanyakan apa yang mengilhami beliau memiliki pemahaman sebagaimana tertulis di bukunya.

Seminggu setelah Bu Ainun wafat, beliau setiap jam 2 pagi dengan masih menggunakan celana tidur, dalam keadaan sadar bangun berkeliling rumah sambil memanggil-manggil Bu Ainun. Kabar ini kemudian didengar oleh Tim dokter pribadi beliau di Indonesia dan Munchen, Jerman. Beliau divonis mengidap penyakit Psikosomatik Malignant, atau sederhananya penyakit kesedihan mendalam.  Menurut Pak Habibie, penyakit ini diidap oleh tiap jodoh, tidak tergantung oleh agama maupun budaya.

Singkatnya, tim dokter kemudian sepakat untuk memberikan empat pilihan pada Pak Habibie. Pilihan pertama adalah bersedia dirawat di rumah sakit jiwa, pilihan kedua dirawat di rumah dan tim dokter yang akan mengunjungi, pilihan ketiga mencurahkan isi hati pada orang terdekat dan pilihan terakhir adalah menuliskan kesusahan hati beliau.

Pilihan pun jatuh pada yang terakhir. Ketika pertama menulis, Pak Habibie merasa seperti me-restart dirinya dimulai pada titik dimana ia pertama kali bertemu Bu Ainun. Pada saat itu ia berusia 13 tahun dan Ainun berusia 12 tahun. Karena ibunya dan ibu Ainun adalah sahabat, ia bisa sering mengunjungi Ainun di rumahnya. Namun, setelah di-restart pada titik ini, beliau merasa tidak ada perasaan apa-apa di hatinya,  baru ketika usia mereka 16 tahun dan diolok-olok berjodoh, barulah muncul rasa malu. Karena itulah, bab di buku yang ditulis beliau dimulai pada titik ini. Karena pada titik inilah mulai muncul rasa di hati Pak Habibie.

Buku Ainun dan Habibie ditulis selama 3 bulan. Ketika naskahnya selesai, beliau mengirimkannya ke sahabat beliau. Keesokan paginya, sahabatnya menelepon dan berkata,

“Saya sudah membaca keseluruhan naskah dan kalau dengan gaya menulis begini, kamu tidak bisa lulus SMA.” tutur beliau sambil tertawa lepas.

Beberapa orang bahkan tidak percaya kalau naskah Habibie dan Ainun merupakan hasil tulisan Pak Habibie sendiri. Bahkan, ada yang penasaran sampai menanyakan pada semua orang terdekat Pak Habibie, sampai pembantu rumah tangga juga diinterogasi. Hasil penjualan buku Ainun dan Habibie didonasikan 100 persen pada Bank Mata yang didirikan oleh Bu Ainun.

Menurut beliau setiap kebijaksanaan yang dibuat oleh manusia dihasilkan oleh kombinasi dari dua elemen: perasaan dan akal. Manusia harus pintar memanfaatkan kedua eleman tersebut agar mengarah pada energi yang positif. Sebagai contoh, satu ditambah satu adalah dua. Namun, bisa saja kita menjadikan satu ditambah satu menjadi 2000, bukan karena bodoh, tetapi karena meningkatkan energi positif dari kedua elemen tersebut. Tetapi, jika manusia tidak pintar memanfaatkan kedua elemen tersebut, bisa saja satu ditambah satu menjadi minus 2000. Ini terjadi karena kombinasi kedua elemen tersebut menghasilkan energi negatif.

Kedua elemen ini juga harus diterapkan pada konsep jodoh, memadukan kedua elemen itu untuk menghasilkan energi positif. Seperti yang dilakukan oleh Pak Habibie. Jika saja, ia tidak memilih pilihan keempat untuk menuliskan semua perasaannya pada buku Habibie dan Ainun, beliau diprediksi akan menyusul Bu Ainun 3 bulan setelah wafatnya . Namun dengan memilih untuk menuliskan cerita, justru kondisi beliau membaik. Meski sepanjang proses penulisannya beliau tidak bisa berhenti menangis, namun setelah ceritanya selesai, perasaan beliau kembali normal. Hal ini pula yang sangat mengejutkan tim dokter. Ini karena beliau memanfaatkan kedua elemen akal dan perasaan untuk memberikan energi positif hingga tidak terasa saat ini sudah berlalu 3 tahun setelah wafatnya Bu Ainun.

Terakhir, menurut beliau, siapapun orang Indonesia yang menonton film Ainun dan Habibie begitu keluar dari bioskop akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi sekali. Jangankan orang Indonesia, orang Jerman yang menonton saja, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, harusnya orang Indonesia lebih lagi.

Nah, bagaimana dengan Anda yang sudah menonton filmnya?

*****