Error message

  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).

AFTA 2015: Program Gadai Negara?

Oleh: 

Ditdit N Utama

Potensi Indonesia – dari berbagai sudut pandang – sangatlah besar, bahkan – dapat dikatakan – terbesar di kawasan ASEAN. Potensi Indonesia, dapat dilihat bukan hanya dari luas daerahnya saja, atau dari sumberdaya alamnya yang berlimpah saja, atau dari jenis flora dan faunanya saja; bahkan dari segi jumlah penduduk, yang berjumlah enam puluh kalinya (60 : 1) penduduk Singapura dan merupakan captive market, Indonesia memiliki potensi yang sangat mumpuni, yang – tentunya – tidak dimiliki oleh negara lain di kawasan bagian tenggara benua Asia ini. Sehingga, pencanangan AFTA pada tahun 2015, yang kemudian menimbulkan pertanyaan basi ‘apakah AFTA 2015 merupakan peluang atau ancaman bagi Indonesia?’, sangat jelas bisa kita jawab dengan mata telanjang.

Anggap saja, wilayah ASEAN hanyalah terdiri dari satu negara, yaitu Indonesia; Indonesia pastilah masih bisa hidup dan menjadi negara yang sangat besar. Bahkan, dengan perputaran nilai rupiah dari perdagangan domestik brotu (PDB) – yang merupakan kemampuan sumber daya ekonomi Indonesia – di 4 bidang (pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan) yang sebesar 1.300 trilyun rupiah per tahun 2013 saja (BPS, 2013), sudah cukup menjadi sebuah bukti bahwa Indonesia memiliki perputaran potensi ekonomi yang sangat luar biasa besar. Apalagi kalau kita coba hitung semua jenis usaha yang ada di Indonesia (di luar jenis usaha migas) yang nilai PDBnya mampu mencapai kisaran 8.400 trilyun (BPS, 2013); tidak ada kata lain untuk menilai, bahwa negara Indonesia sungguh sebuah negara yang teramat kaya raya, bahkan sangat bernas.

Lalu apa kurangnya? Kemudian, mengapa kita seperti tidak memiliki kepercayaan diri atas potensi pasar dan potensi untuk mengembangkan diri sendiri lagi? Lantas, mengapa kita seperti berbangga hati untuk menyambut AFTA yang mungkin menjadi sebuah ‘program gadai’ negara? Ya, program untuk menggadaikan negara tercinta ini. Karena, belumlah kita – sebagai negara – melakukan penetrasi produk dan pemerataan ekonomi dengan baik sampai ke setiap pelosoknya, lantas dengan sangat santun kita berujar; ‘silahkan Singapura, pasarkan produk anda disini, dan kami siap membelinya’; atau kita dengan bangga berucap, ‘silahkan Malaysia, anda punya produk apa? Kami siap membelinya’; atau ‘batik Malaysia bagus juga ya, lebih murah bahkan, tidak kalah dengan batik Pekalongan’.

Belum lagi kualitas sumberdaya manusia dan para pendidik, khususnya pada sistem pendidikan, baik skala lokal, nasional, maupun regional; ini jauh lebih gila dan mengkhawatirkan (lagi). Bukan hanya sumber daya alam dan ekonomi atau barang tambang saja yang – nantinya akan – digadai; bahkan, nilai-nilai kebangsaan – sedikit demi sedikit – pun akan tergadai. Mengapa tidak? Dengan bebasnya para pendidik dari bangsa-bangsa luar Indonesia (sebut saja Singapura, Malaysia bahkan Vietnam) berkeliaran dan mengajar serta mendidik di wilayah nusantara ini; jelas, tidak akan ada lagi titipan nilai-nilai – tinggi – kebangsaan. Jelas ini sangat mengerikan. Bolehlah kita berbangga hati – pada era tahun 1970 – 1980-an – dengan mengirimkan begitu banyak para dokter, insinyur dan pengajar ke negeri jiran; dimana, program ini jelas bukan hanya sekedar mendatangkan devisa atau menyebarkan kebajikan ilmu, juga dalam rangka menyebarkan nilai-nilai kebangsaan kita; namun nanti, merekalah yang menjadi mentor di negeri tercinta ini. Belum lagi masalah penetrasi titipan kurikulum luar yang – konon dianggap – lebih mumpuni. Lantas, kemana nilai kebangsaan ini akan dibawa?

Alasan berkompetisi. Jelas merupakan alasan yang dibuat-buat. Jelas bukan menjadi alasan yang harus dihadapi Indonesia di masa sekarang. Dimana, Indonesia sedang ada di masa menuju kebangkitan, walau pun juga tidak jelas kebangkitan jenis apa, namun – satu hal yang pasti – Indonesia belumlah siap untuk berkompetisi bebas; jangankan berkompetisi bebas, berkompetisi dengan banyak aturan pun Indonesia belumlah mampu. Bahkan, Indonesia sendiri – seharusnya – sedang bersusah payah membangun ‘pola dan cara yang benar’ untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia anak bangsanya, khususnya di bidang pendidikan.

Menjadi sangat penting pada akhirnya. Menurut saya, sisi anca dan mudarat atas realisasi AFTA 2015 jelas lebih besar jika dibandingkan dengan sisi faedah dan maslahatnya bagi negara ini. Jangan biarkan, Indonesia mati di lumbung sumberdaya manusianya sendiri. Jangan biarkan, Indonesia mati di lumbung produknya sendiri. Seharusnya, Indonesia – berusaha – untuk meng-isolir diri terlebih dahulu untuk beberapa dekade, seperti yang dilakukan Jepang setelah tragedi bom atomnya; lakukan penetrasi strategis dan teknis pada segala bidang di dalam diri negara kita sendiri terlebih dahulu; lakukan pemerataan ekonomi, dari ujung sabang sampai batas merauke, terlebih dahulu; kembangkan sistem pendidikan berbasis ‘contoh benar dan proporsi infrastruktur’ terlebih dahulu; dan setelah itu, barulah kita bersaing pada level ASEAN. Jangankan ASEAN, dunia sekali pun, Indonesia tabu untuk surut ke belakang dan mampu untuk hadapi. [dnu]

Referensi

BPS – Badan Pusat Statistik. 2014. Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2004-2013. BPS Indonesia,http://www.bps.go.id [tanggal akses: 02.04.2014]

Atikel ini dipublish juga di kompasiana.com