Error message

  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).

Diskusi PPI Penguatan Kerjasama Kelembagaan Universitas di Indonesia

Oleh: 

Adminit

Acara diskusi PPI kembali digelar pada hari Rabu, 16 November 2016. Narasumber kali ini merupakan dosen-dosen IPB yang sedang memiliki kunjungan dinas ke kota-kota di Eropa untuk membahas kerjasama antara IPB dan universitas-universitas di seantero Eropa.  Perwakilan IPB yang hadir pada acara diskusi kali ini adalah sebagai berikut:

  1. Dekan FEM:

          Prof. Yusman Syaukat

      2. Wa. Dekan Akademik:

          Dr. Lukman M. Baga

      3. Ka. Dept Manajemen:

          Dr. Mukhammad Najib

      4. Sek. Dept ESL:

          Dr. Ahyar Syamsudin

      5. Ka. Dept Agribisnis:

          Dr. Dwi Rachmina

      6. Kaprodi MSA:

          Prof. Rita Nurmalina

      7. Dosen Agribisnis/MSA:

          Dr. Suharno

Nama yang disebut terakhir, pak Dr. Suharno, merupakan pembicara pada malam kali ini dengan judul ’’Proses Kerja sama Antar Institusi: Contoh Empiris IPB-Georg-August-Universität Göttingen’’. Acara ini dikomandoi oleh saudari Rizky Amelia, yang baru saja menyelesaikan studinya yang dibiayai oleh program kerja sama IPB dan Universitas Göttingen.

(Sekedar informasi, IPB memiliki kerja sama terutama dengan Göttingen University untuk membuat program double degree, dengan tahun pertama dihabiskan di IPB dan tahun selanjutnya dihabiskan di Göttingen, kerja sama ini turut melibatkan DAAD)

Pemaparan awal dibuka dengan penjelasan bahwa walaupun kerja sama yang IPB bina dengan kampus luar tergolong besar,antara institusi dan institusi, namun pada hakikatnya kerja sama antar instansi ini dibangun antar hati. Komunikasi yang erat antar hati inilah yang memungkinkan kerja sama IPB dan beberapa universitas di luar negeri bisa berjalan.

Ada dua faktor utama yang mendorong IPB melakukan kerja sama program ini ,yang disponsori oleh GOI, HEP-DAAD,dan DAAD:

  • Menjalankan misi IPB untuk Go International
  • Mutual benefit dan reciprocity cooperation

Dalam memenuhi tujuan tersebut, pihak IPB sangat berhati-hati dalam memilih partner kerja sama. Hal yang dilihat dari partner adalah kesamaan visi misi,komitmen, dan devotion. Selain itu, sifat kerja sama juga harus saling menguntungkan.

Salah satu kerja sama yang sudah lama dibina adalah dengan Universitas Göttingen. Sudah semenjak tahun 2008 dilakukan kerja sama double degree dengan setahun pertama dihabiskan di Indonesia dan tahun berikutnya dihabiskan di Jerman. Sekarang sedang diusahakan untuk melakukan program yang terbalik : terlebih dahulu setahun di Jerman untuk kemudian melanjutkan tahun kedua di Indonesia. Tingkat keberhasilan program ini pun cukup menggembirakan dengan persentase keterselesaian studi yang tinggi.

Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai kerja sama program ini, sesi tanya jawab pun dibuka. Ada sebuah pertanyaan dari salah satu peserta mengenai kondisi publikasi di Indonesia yang memprihatinkan. Salah satu masalah utama dari publikasi di Indonesia adalah sulitnya jurnal-jurnal dalam negeri menembus jurnal bertaraf internasional. Ada berbagai solusi yang didiskusikan, di antaranya menaikkan kompetensi riset dan cara penulisan scientific English yang baik. Selain itu, dibutuhkan tema yang menarik dan  metode riset yang up to date .

Pemerintah, melalui Dikti, memang pernah mencoba meningkatkan kompetensi publikasi mahasiswa Indonesia dengan mewajibkan mahasiswa membuat publikasi. Namun, karena masalah klasik di pemerintahan, memaksakan aturan tanpa Sumber Daya manusia yang memadai, program ini bisa dianggap gagal. Mahasiswa bukannya berusaha memenuhi syarat yang ditetapkan oleh jurnal internasional, tapi malah mencari jurnal yang mau menerima karya tulisnya. Ini menyebabkan banyak munculnya jurnal internasional ‘’abal-abal’’ yang meminta bayaran mencapai $500 dollar tanpa melihat kualitas.

Pertanyaan lanjutan kembali ditanyakan mengenai kemungkinan menerapkan kondisi  riset di Jerman di Indonesia. Di Jerman, setiap professor memiliki laboratorium masing-masing, sedangkan di Indonesia tidak. Ternyata, terdapat perbedaan mendasar dalam memandang riset di Jerman dan Indonesia. Di Jerman, riset dilakukan dengan melibatkan professor-professor yang memang ahli di bidangnya. Hal ini menyebabkan professor selalu memiliki proyek riset yang bisa dikerjakan, sehingga penerimaan mahasiswa Doktoral bisa terus berjalan karena kebutuhan untuk riset. Mahasiswa master pun bisa dimanfaatkan untuk membantu riset. Di Indonesia, perusahaan memiliki bagian Research and Development masing-masing sehingga tidak terlalu menggunakan tenaga professor.

Demikianlah hasil diskusi PPI pada tanggal 16 November 2016

Salam Perhimpunan!