Teleskop, Bulan, dan Tobias Mayer dalam Astronomietag

Oleh: 

Triana Gita Dewi

Mungkin beberapa dari Anda ada yang mengingat pengumuman yang disampaikan teman kita di acara Pilkangen awal bulan Maret silam mengenai Astronomietag atau hari Astronomi. Bagi saya ini kegiatan yang sangat menarik setelah hantaman ujian yang bertubi-tubi, so it must be worth to try. Nah ternyata tidak hanya saya, banyak yang tertarik mengikuti acara ini, mulai dari ingin melihat teleskop hingga berharap memandang bulan lebih dekat, meskipun tidak ada satu pun dari kami yang berasal dari jurusan fisika, apalagi Astronomi.
Kegiatan ini merupakan rangkaian acara yang digelar oleh Fakultät für Physik, Göttingen Sabtu minggu lalu tepatnya tanggal 16 Maret 2013 di daerah Kampus Uni nord mulai dari pukul 16.00 hingga 20.00. Kebanyakan teman saya pergi dengan menggunakan sepeda, dan ternyata lokasinya tidak terlalu jauh, cukup dengan waktu 15 menit mereka sudah sampai di Lokasi tujuan, sedangkan saya dan tiga orang lainnya memilih menggunakan bus linie 5 dari Halte Christoporus dan berhenti di Halte Tamman Strasse, berjalan sedikit melewati 3 gedung dan sampailah di Fakultät für Physik. Peraturan paling penting dari acara ini adalah “Full hours” datanglah tepat waktu pada pukul 16.00, 17.00, 18.00, dan 19.00. Jika datang pada waktu diantaranya, anda tidak bisa masuk, alhasil harus menunggu hingga jam berikutnya.
Di dalam gedung, kami langsung menuju lantai 4 tempat kegiatan dilaksanakan. Koridor lantai 4 itu cukup lengang karena memang tidak terlalu banyak orang tapi sangat ramai oleh poster-poster penelitian mengenai matahari, radiasi, gravitasi, dan banyak lagi penelitian di luar nalar saya sebagai mahasiswa Agribisnis, achsoo mungkin ini adalah koridor untuk ruangan-ruangan para Profesor, dan PhD student. Di bagian koridor lainnya, kami menemukan empat buah timbangan yang hampir serupa, tapi setiap timbangan memiliki nama yang berbeda Sonne (Matahari), Mond (Bulan), Mars, dan Kepler. Timbangan-timbangan itu menunjukan berat yang berbeda sesuai dengan gravitasi di tempat-tempat tersebut (kecuali timbangan kepler yang menyesuaikan dengan hukum Kepler). Misalnya berat saya di Mars bisa sampai 1.200 Kg, waw, hal ini disebabkan perbedaan gravitas yang cukup signifikan, 1 N/Kg di bumi dan 0,38 N/Kg di Mars. Berat saya di Bumi?? Ahhh...sepertinya itu tidak perlu dijawab.
Perjalanan dilanjutkan, kami melihat berbagai macam alat pengamat yang digunakan untuk melihat benda-benda langit, mulai dari yang paling sederhana dan tua, hingga yang kompleks dan modern. Benda-benda itu memperlihatkan pergerakan evolusi ilmu astronomi yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu dan tetap menarik perhatian hingga saat ini. Di dekat alat-alat itu bertengger, terdapat sebuah stand yang memperlihatkan bagaimana seberkas cahaya dapat terbagi-bagi menjadi berbagai spektrum warna pelangi. ME-JI-KU-HI-BI-NI-U kalau dulu kami mengeja. Seperti teleskop tadi, alat pengurai warna itu pun bermacam-macam ada yang sederhana, berupa bangun empat dimensi dari karton yang di dalamnya terdapat lempeng-lempeng plastik membentuk prisma, kami harus mengintip untuk melihat cahaya lampu yang teruraian menjadi berbagai warna. Ada pula yang sangat kompleks, bentuknya mirip sekali dengan printer poster besar yang ada di Blibliothek.
 Menaiki tangga, kami berjalan menuju sebuah ruangan. Di ruangan itu setiap jamnya akan diputarkan sebuah video. Mungkin hal inilah yang menyebabkan aturan “full hours” tadi. Ada tiga video yang akan diputarkan hari itu, Air, Tobias Mayer, dan Manajemen Institusi. Saya sendiri berkesempatan menonton video mengenai Tobias Mayer, seorang astronom terkenal dari Göttingen yang menemukan teknik pemetaan bumi dengan menggunakan bulan dan bintang sebagai dasar. Sayangnya meskipun sangat menarik, semua video disajikan dengan menggunakan bahasa Jerman, sehingga saya harus berkali-kali membuka google untuk menebak alur cerita. Nah, bagian yang paling ditunggu adalah melihat benda langit dengan teleskop sungguhan. Sebenarnya sore itu kami sudah pesimis bisa melihat benda langit dengan menggunakan teleskop yang terletak di bagian paling atas gedung, bagian yang menjulang seperti kubah, karena tingginya densitas awan. Namun malamnya, sekitar pukul 7 kami diperbolehkan menggunakan teleskop dan melihat bagaimana semua alat di “kubah” itu bekerja. Kami cukup excited dapat melihat bulan cukup dekat meskipun tidak kentara jelas permukaan yang berkawah-kawah dan bergunung-gunung. Operator kemudian meng”klik” sebuah titik pada layar monitor dan seketika teleskop itu berputar dan tutup kubah sedikit terbuka. Tujuan kedua adalah planet Jupiter.
Mengamati benda langit dengan teleskop merupakan kegiatan terakhir yang kami lakukan di sana. Kegiatan hari itu cukup menyenangkan dan padat berisi ilmu pengetahuan. Sebagai tambahan, kami juga membeli beberapa postcard dengan gambar bulan, galaksi, teleskop dan lain-lain sebagai oleh-oleh. Untuk teman-teman yang juga ingin melihat bulan, planet, dan bintang dengan menggunakan teleskop (pada langit yang cerah), tapi belum punya kesempatan kesana, ternyata “open hause” ini juga dilakukan setiap bulan lho, sehingga teman-teman bisa datang pada kesempatan-kesempatan berikutnya.