Filosofi Model dan Modeling

Oleh: 

Ditdit N Utama

Problem domain, memungkinkan aktivitas analisis dan perhitungan menjadi sangat murah dan sederhana. Bolehlah tidak sampai dikatakan nir risiko dan nir biaya, namun setidaknya problem domain membuat risiko dan biaya jauh dari yang dibayangkan; jauh lebih rendah daripada kita melakukan analisis dan perhitungan langsung pada level implementasi (real domain). Misalnya, implementasi transjakarta untuk mengatasi permasalahan kemacetan kota Jakarta yang bernilai ratusan miliar dan juga memiliki risiko tidak sedikit, mungkin merupakan alternatif keputusan yang tidak akan pernah disarankan dari hasil dari analisis dan perhitungan pada ranah problem domain. Contoh lainnya, rekayasa cuaca – bisa jadi – bukanlah merupakan saran objektif dari hasil analisis dan perhitungan yang ada pada problem domain, bahkan tidak perlu sampai menjadi pemborosan tingkat tinggi bahkan mendekati mubadzir, hanya karena ingin agar Jakarta bebas dari banjir. Masih banyak contoh implementasi nyata, yang kadang menjadi salah kaprah pada level implementasi, karena tanpa analisis dan perhitungan yang objektif.

 

Gambar 1. Sudut Pandang Model (Utama, 2014)

Model merupakan jawabannya. Bagaimana kita mencoba untuk menggambarkan ceruk sekat dunia nyata (real domain) pada barrier yang sempit yang disebut model, pada ranah problem domain. Bagaimana kita mencoba untuk memperjelas bagian dan parameter pembentuk sistem nyata, menjadi sebuah gambaran utuh yang tertuang dalam sebuah replika sederhana dengan konstrain yang terbatas; lebih jelas dan lebih gamblang, sehingga level akurasi analisis dan perhitungan untuk memunculkan saran keputusan yang akan diimplementasikan pada level nyata, akan lebih dapat dipertanggungjawabkan keobjektifannya. Bukan benar atau salah pada ‘level tataran hasil’, namun model merupakan cerminan usaha optimal manusia untuk dapat menghitung kemungkinan terbaik yang akan dilakukan, walaupun parameter yang digunakan – sudah pasti tentunya – tidak akan sama dengan kenyataannya. Bagaimana pun, replika tentulah tidak akan pernah menyerupai apa yang dicontohkan.

Model pun mendorong kita – para pengambil keputusan – untuk bertindak berdasarkan nalar yang sangat terstruktur; bukan subjektif semu dan intuisi (gut feeling based on experience) asal, sehingga setiap keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan secara logis dan kuantitatif. Logis, karena manusia dititipi akal sebagai pembeda dengan makhluk lainnya; kuantitatif, karena memang nilai-nilai matematis terkadang lebih vulgar dan jelas untuk dapat dipahami.

Model mampu mentrasfer sistem berbatas pada dunia nyata menjadi sebuah ‘kiasan’ sempit yang sangat mudah untuk dipahami, sehingga model dapat dikatakan sebagai sebuah replika dari realita. Model dapat juga disebut sebagai sebuah kompromi dari sistem nyata, karena hanya fokus pada berbagai jenis constraint yang dimiliki atau yang dianggap penting atau yang mampu terdeteksi saja; sehingga model memang mengompromikan beberapa hal dari dunia nyata, karena keterbatasan manusia mentransfer semua kemungkinan parameter yang dimiliki alam. Bisa juga, model disebut dengan karikatur dunia nyata, yang memiliki pandang fisik yang hampir mirip dengan skema dunia nyata yang sedang dibicarakan; hanya tentunya saja dalam skala yang berbeda, disesuaikan dengan batas masalah (problem domain) yang menjadi batas tujuan pembuatan model itu sendiri. Berbagai jenis sudut pandang model, dapat dilihat pada Gambar 1.

Kadang kita terperangkap dengan tujuan dan bidang kajian di mana pemodelan itu sendiri dibangun dan dikembangkan, karena model – kadang – dimaknai sesuai tujuan atau bidang kajian yang dimaksud. Seperti forecasting model, jelas ini adalah model yang dibangun untuk melakukan prediksi, atau matematical model, ini merupakan model yang dikembangkan dengan domain matematika sebagai domain ilmu utamanya, sehingga penggunaan persamaan dan formula matematikanya menjadi lebih dominan sebagai selimut deskripsi model tersebut. Contoh lain, simulasi, simulasi hanyalah salah satu tujuan dibentuknya model, ditampilkan dalam bentuk tampilan dinamis (berdasarkan dimensi waktu) dan tidak statis; dan juga memiliki sifat input yang random dan memiliki kemungkinan muncul menjadi input, yang disebut dengan stokastik bukan deterministik. Jadi, kadang  kita menyebut model sebagai forecasting, matematika dan simulasi; bukan, semua itu hanyalah nama model yang diambil dari tujuan pembuatan model atau bidang kajian di mana model itu dikembangkan.

Model harus bersifat akademis logis. Berbagai syarat ketat menjadi acuan bagaimana model tersebut dikembangkan. Model yang dikembangkan haruslah menggunakan metode yang absah, baik metode analisisnya, perhitungannya, prediksinya, atau verifikasi dan validasinya. Absah menjadi salah satu syarat metode yang digunakan untuk mengembangkan model yang bersifat akademis logis; di mana status ‘pernah dipublikasi’ dari metode yang digunakan adalah salah satu syarat keabsahan metode tersebut. Metode harus berdasarkan teori sebelumnya dan ada realitanya, sehingga pada akhirnya model harus memiliki nilai verifikasi yang tinggi (kesesuaian dengan teori atau metode yang telah absah) dan juga memiliki nilai validasi yang baik (kesesuaian dengan sistem nyata yang dimodelkan), sedangkan teknologi informasi, bahasa pemrograman, alat ukur atau aplikasi lainnya hanyalah berbagai jenis tools yang digunakan oleh para modeler untuk mengembangkan model itu sendiri. Parameter yang dibutuhkan di dalam pengembangan model dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Parameter Dukung Pengembangan Model (Utama, 2014)

Itulah model. Memahaminya tanpa ada sekat definisi menjadikan kita lebih paham dan mampu dengan tepat memosisikan model pada nalar pemahaman besar kita, sehingga jika semua permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan melalui kaidah-kaidah pemodelan, diharapkan kasus permasalahan yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif dapat dipecahkan secara nyata, tanpa ada prasangka buruk, bahkan titipan intervensi rusak. Model bersifat nyata, terukur, sempit, ternalarkan, logis, penuh perhitungan dan tentu dapat dipahami dengan sangat sederhana dari sudut pandang yang benar. Bahkan, jika kita mau menalar sedikit lebih komprehensif dan holostik, keberadaan jagat raya berserta semua isi dan ciptaanNya pun merupakan ‘model nyata’ yang Allah hadirkan untuk dapat ditalar oleh akal manusia dengan sangat logis dan masuk akal, dalam rangka memahami hakikat nyata dari wujud keberadaanNya. Begitu juga ketika Allah mencoba untuk menghadirkan seorang contoh teladan, Dia mengutus Rasulullah sebagai ‘role model’ yang patut diikuti setiap tindak-tanduknya oleh semua manusia bumi.

Referensi

Achkar H. 2013. Modeling Introduction. Testoptimal [access date: 23.01.2013]
Al-Hassani STS. 2012. 1001 Inventions – The Enduring Legacy of Muslim Civilization, Third Edition. Washington DC: National Geographic Society.
Einstein A. 1925. Quantentheories des Einatomigen Idealen Gases. Leiden: Leiden University.
Fearing P. 2000. Computer Modelling of Fallen Snow. ACM Publisher.
MacKay B. 2012. Mathematics and Statistics Models. Clark College.
Maria A. 1997. Introduction to Modeling and Simulation. Proceeding of the 1997 Winter Simulation Conference.
Utama DN. 2014. Model and Modeling. Presentasi Pertemuan PPI Göttingen Jerman.
Van-Roy P, Haridi S. 2003. Concepts, Techniques, and Models of Computer Programming. Swedish Institute of Computer Science.