Error message

  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).

Keragaman dan Potensi Gulma Padi di Indonesia untuk Pakan Ternak Ruminansia

Oleh: 

Nur Rocmah K

Padi merupakan bahan pakan pokok masyarakat Indonesia dengan sekitar 50% masyarakat Indonesia bergantung pada ketersediaan padi.  Penanaman padi mencakup luasan 11,5 juta hektar di seluruh kepulauan Indonesia, terutama di Jawa mencapai 5,4 juta hektar (Badan Perencanaan Nasional, 2003).  Pada tahun 2003, di area lahan produksi padi yang mencapai 10,5 juta hektar produktivitas tertinggi dicapai di lahan sawah beririgasi karena penanaman dapat dilakukan lebih dari sekali dengan hasil panen yang lebih baik.

Gulma padi, sebagai salah satu faktor biotik di lahan pertanian, hingga saat ini masih menjadi permasalahan bagi petani dari musim ke musim.  Petani umumnya masih memiliki ketergantungan terhadap herbisida dalam menanggulangi gulma padi karena persepsi yang terbentuk selama bertahun-tahun mengenai daya guna herbisida dan adanya penurunan jumlah tenaga kerja di bidang pertanian.  Meskipun sejumlah penelitian terbaru telah mengemukakan secara jelas mengenai bahaya penggunaan herbisida secara berlebihan dan terus menerus baik bagi kesehatan petani maupun lingkungan. 

Dalam penelitian yang dilakukan pada musim tanam pertama tahun 2011-2012, dilaksanakan survei gulma padi di 6 (enam) wilayah meliputi dataran tinggi dan dataran rendah di 3 (tiga) propinsi di Pulau Jawa, yaitu Cianjur, Karawang, Karanganyar, Brebes, Malang dan Gresik dengan total plot mencapai 396 buah.  Pengambilan sampel gulma dilakukan untuk mengetahui potensi gulma padi yang dapat digunakan sebagai pakan ternak baik jumlah maupun kandungan nutrien.  Wawancara dengan petani dilakukan selama survey untuk mengetahui varietas padi yang ditanam, penanganan gulma, penggunaan pupuk, pemanfaatan gulma di areal persawahan serta nilai guna hasil produksi. 

Survei dalam penelitian ini menghasilkan data gulma yang terdapat di plot penelitian mencapai 173 spesies gulma di sawah dan 193 spesies gulma di galengan dengan jumlah tertinggi keragaman gulma terdapat di daerah Cianjur, diikuti dengan Karanganyar, Malang, Gresik, Brebes dan Karawang.  Gulma di daerah dataran tinggi didominasi oleh gulma air berupa gulma daun lebar dan beberapa jenis rumput yang tahan genangan.  Sedikit berbeda dengan jenis gulma di daerah dataran rendah yang banyak didominasi oleh jenis rumput terutama rumput yang tahan kering.  Salah satu faktor utama yang berpengaruh pada keragaman gulma adalah metode pengendalian gulma yang dilakukan oleh petani dan kondisi keragaman lingkungan plot yang disurvei. 

Metode pengendalian gulma secara intensif menggunakan herbisida dan penyiangan secara rutin menyebabkan jumlah dan keragaman gulma menurun drastis dibandingkan pada penggunaan herbisida yang lebih rendah.  Hal ini terjadi terutama di daerah dataran rendah, seperti Karawang dan Brebes.  Salah satu faktor penting yang berpengaruh pada metode penyiangan gulma ini adalah pemahaman petani akan besarnya pengaruh gangguan gulma terhadap produktivitas padi.  Pada daerah dataran tinggi, penggunaan pestisida relatif lebih terbatas karena petani dapat memanfaatkan debit air yang tinggi untuk menekan jumlah gulma terutama pada awal musim tanam.  Selain itu, petani dapat juga memanfaatkan areal persawahan sebagai tempat pemeliharaan ikan (di Cianjur) melalui pola tanam mina padi. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa baru 26 spesies yang umum digunakan sebagai pakan ternak.  Rata-rata produksi gulma di daerah persawahan maupun di galengan pada musim ini berkisar antara 890 g/m2 hingga 2300 g/m2 dengan kandungan bahan kering sekitar 12,0 – 16% dan protein kasar  bisa mencapai 13%.  Hal ini menunjukkan bahwa gulma padi secara kumulatif dari berbagai hijauan yang digunakan memiliki potensi untuk digunakan sebagai sumber bahan pakan ternak ruminansia dilihat produktivitas dan kandungan nutrien. 

Sumber: Executive Summary Laporan Hasil Penelitian berjudul: Keragaman Komunitas Gulma Padi di Lahan Pertanian Beririgasi Pulau Jawa, Indonesia, DIPA BIOTROP 2012