Error message

  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).

PPI Goe Berbagi Info: Mengapa Au-Pair?

Oleh: 

Genita Cansrina

“Soon after that, the kind queen got her wish when she gave birth to a baby girl who had skin white as snow, lips red as blood, and hair black as ebony. They named the baby princess Snow White,…."

Seandainya saja sang putri lahir di Indonesia, mungkin namanya akan menjadi Si Putih Kapas, bukan Si Putih Salju. Ingin merasakan seperti apa sih salju itu, saya pergi ke warung bakso dan memesan minuman yang dilengkapi potongan sebesar dadu cingcau hitam dan nangka, kerokan alpukat dan kelapa muda, disiram air gula lalu ditutup dengan serutan es kemudian ditambahkan susu kental manis. Saya amati gundukan es serut tersebut, sambil memotong-motong bulatan-bulatan di dalam mangkok di depan saya. Seperti inikah salju? Tapi koq rasanya seperti bakso ya? :D
Berangkat dari angan-angan ingin merasakan dingin dan melihat putihnya salju, juga biar bisa memetik buah beri di hutan, seperti yang saya baca di dongeng-dongeng, saya bertekad untuk menginjakkan kaki di daratan Eropa. Bagaimanapun caranya. Oh, iya lupa, saat itu saya sedang kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Jerman – yang sekarang nama fakultasnya menjadi Fakultas Ilmu Budaya- di sebuah universitas negeri di Bandung. Saya menyadari betapa saya tidak mempunyai cukup kesempatan untuk berinteraksi mempraktekkan ilmu kebahasaan yang saya pelajari. Saya harus mencari „native sparring partner“ langsung di negara asalnya. 
Hmmm…gimana ya caranya? Yang saya tahu, ada beberapa jalan, misalnya dengan mengajukan visa studi atau visa kunjungan. Kedua jenis visa tersebut memerlukan jaminan keuangan yang tidak sedikit. Teringat ultimatum ibu saya ketika saya lulus SMA: „kalo kamu ngga bisa masuk perguruan tinggi negeri, kerja di pabrik aja!“. Hadeeuh…Ma, daripada saya kerja di pabrik, mendingan saya sekolah ke luar negeri, bantah saya dalam hati. Saya juga tidak mau kuliah di perguruan tinggi swasta karena biayanya tidak hanya mencekik leher beliau, tapi leher kami sekeluarga. Maksud ibu saya tentu bukan untuk merendahkan buruh pabrik, karena sejak belia puluhan tahun yang lalu, beliau juga bekerja di pabrik. Ultimatum tersebut dimaksudkan untuk memotivasi saya, anaknya, agar saya bisa duduk di bangku kuliah. Tidak seperti beliau yang hanya bisa ‚mencicipi‘ sekolah dasar sampai kelas dua saja.
Mau cari beasiswa? Saat itu hampir tidak ada beasiswa yang ditawarkan untuk mahasiswa bachelor. Belum lagi nilai-nilai saya yang biasa saja. Atau visa menikah? Ah, that is not a good idea! Akhirnya saya mendengar istilah Au-Pair dari kakak kelas saya.
 
Apa itu Au-pair?
Berasal dari Bahasa Perancis yang kurang lebih artinya „auf Gegenseitigkeit“ atau saling menguntungkan, apabila seseorang berusia antara 18-24 tahun, baik wanita (Au-pair-Mädchen) maupun laki-laki (Au-pair-Junge) tinggal di satu keluarga di negara asing dan mendapatkan tempat tinggal, akomodasi, juga uang saku dari host family (Gastfamilie). Sebagai timbal baliknya, Au-pair mempunyai tugas membantu pekerjaan rumah yang ringan, seperti mencuci, menjemur dan menyetrika pakaian, membereskan rumah dan mengantar anak ke sekolah, menjaga dan bermain dengan anak. Mengurus hewan peliharaan dan menyiapkan makanan juga termasuk kewajiban Au-Pair. Pembagian tugas lainnya bisa bervariatif, tergantung kebiasaan dan kebutuhan Gastfamilie. Selain uang saku (Taschengeld) per bulan sebesar € 260, Gastfamilie juga harus menanggung biaya asuransi kesehatan Au-Pair, memberikan kesempatan kepada Au-pair untuk mengikuti kursus Bahasa Jerman dan kegiatan-kegiatan lainnya yang diharapkan bisa memperluas wawasan Au-pair tentang budaya tempat ia tinggal. Sayangnya biaya kursus ini (seperti halnya tiket pesawat pulang pergi) ditanggung oleh Au-pair.
 
Jam kerja, liburan dan kontrak kerja
Masa tinggal seorang Au-pair dibatasi dan tidak dapat diperpanjang yaitu minimal 6 bulan, maksimal hanya boleh satu tahun. Jumlah jam kerja dalam satu hari maksimal 6 jam dan dalam satu minggu tidak boleh melebihi 30 jam. Biasanya pada akhir pekan, Au-Pair mengambil jam bebasnya dan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan seperti jalan-jalan di pusat kota (Zentrum), berolahraga, mengunjungi kota-kota lain, bertemu teman-teman kursus, atau teman-teman senegaranya. Refreshing seperti ini sangat diperlukan Au-pair, karena seminggu penuh menjaga anak, membereskan rumah dan kursus bahasa, membuat badan lelah dan pikiran penat. Biasanya Gastfamilie mengajak Au-pair ketika mereka berlibur sekeluarga, karena dalam satu tahun, Au-pair berhak mengambil cuti, yaitu selama 4 minggu dan tetap mendapatkan Taschengeld, yang disebut ein bezahlter Erholungsurlaub. Selama masa liburan bersama keluarga, Au-pair tetap menjalankan tugasnya, seperti menjaga anak (Kinderbetreuung).
Semua hak, kewajiban serta kesepakatan lain antara Au-pair dan Gastfamilie harus dituangkan secara hitam putih di atas kertas. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyimpangan dan melindungi kedua belah pihak, karena sangat wajar terjadi kesalahpahaman, ketidakcocokan dan Kulturschock, terutama di awal kedatangan Au-pair. Kedua belah pihak harus saling menghargai budaya dan kebiasaan masing-masing.
 
Persyaratan untuk mengajukan visa Au-pair
Nggak ribet koq, selain persyaratan standar seperti paspor, formulir yang sudah diisi lengkap dan dua buah foto biometris, lainnya cuma diminta:

  •  Kontrak Au-pair
  • Surat undangan dari Gastfamilie yang menjamin keikutsertaan kursus bahasa Jerman. Kursus Bahasa Jerman yang akan diikuti haruslah bersifat intensiv, sekitar 20 jam dalam seminggu.
  • Ijasah A1 dar Goethe Institut. 

Gampang kan?
Selengkapnya bisa dilihat di http://www.jakarta.diplo.de
Proses pembuatan visa biasanya perlu sekitar 6 minggu. Jangan lupa bikin janji (Termin) dengan pihak Kedutaan Jerman di Jakarta. https://service2.diplo.de
 
Ayoo…wujudkan mimpimu>>>
Mulai dengan langkah nyata,  mencari Gastfamilie melalui internet. Ketik saja Au-pair Vermittlung. Nanti muncul laman-laman tentang agen perantara yang memuat profil-profil keluarga yang tengah mencari Au-pair. Agen-agen ini resmi looh. Jangan khawatir akan ada penipuan, karena pemerintah Jerman memiliki undang-undang tentang program Au-pair ini (lihat: http://www.arbeitsagentur.de)
Atau lebih gampang lagi, kalau ada rekomendasi dari kakak kelas atau kenalan yang sudah tinggal sebagai Au-Pair di keluarga tersebut. Jadi rajin rajinlah mengumpulkan informasi lalu mengontak Au-pair yang akan habis masa „dinas“-nya. Biasanya jika Gastfamilie memiliki anak yang masih kecil, mereka akan membutuhkan Au-pair lagi di tahun berikutnya, hingga anaknya bisa mandiri.
Yang harus diperhatikan ketika mencari Gastfamilie adalah salahsatu orangtua (Gastvater atau Gastmutter) harus orang jerman dan bahasa yang digunakan sehari-hari di rumah adalah Bahasa Jerman. Juga antara Au-pair dan Gastfamilie tidak boleh ada hubungan kerabat (Verwandschaftsverhältnis).
Hal yang sangat penting selama tinggal di rumah Gastfamilie adalah komunikasi. Biasanya hanya akan terasa sulit di awal. Semua hal, baik itu berupa masalah yang terjadi, pembagian tugas atau rencana yang akan dijalankan harus dibicarakan bersama dengan baik. Bersikaplah terbuka dalam menerima hal-hal baru, baik itu berupa pujian ataupun kritik, karena orang jerman terkenal ‚direkt‘. Biasakan bertanya jika tidak tahu. Satu tahun selama menjadi Au-pair akan menjadi waktu yang tidak terlupakan. Also…es kann nicht schief gehen. Tunggu apa lagi?