"PLAAAKKKK.........!!!": Sebuah Tamparan untuk Galauku Galau Negriku ( Bagian 4 selesai)

Oleh: 

Aulidya

“Karena kami, tidak punya sumberdaya alam yang melimpah seperti yang kalian miliki, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi kami bertahan”
“Karena negeri ini miskin sumberdaya alam, konsekuensi negara empat musim yang tidak tiap waktu dapat memperoleh sinar matahari yang hangat, makanya mereka berusaha mengembangkan teknologi canggih, ......hmmm” gumamku kepada diri sendiri. Betul juga apa kata Mr. Westerwelle, Minister of Foreign Affairs nya Jerman dalam Konferensi Internasional di Bonn, Juni 2012. Kala itu, seorang peserta dari negara Afrika bertanya dengan antusias setelah Mr. Westerwelle mempresentasikan hasil kerjasama-kerjasama terutama beasiswa yang dilakukan pemerintah Jerman, di negara-negara berkembang.
Why, you and your country is so care about us, the developing country, menawarkan banyak beasiswa untuk negara-negara berkembang?” Tanya seorang peserta dengan gaya ala Bob Marley dengan pede-nya, kalo menurut bahasa gaul mungkin begini pertanyaanya “ngapain sih elo peduli amat ama negara gue” (karena si penanya menggunakan bahasa tubuh yang mirip rapper sampai membuat Sang Menteri agak bengong)
Segera setelah agak bengong, Sang Menteri menguasai diri lalu menjawab .....
“Karena kami, tidak punya sumberdaya alam yang melimpah seperti yang kalian miliki, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi kami bertahan”. Kalimat Sang Menteri dengan lugas.
Kalimat singkat yang cukup menampar wajahku. Kalau mau diteruskan menurut versiku mungkin akan seperti ini kalimat lanjutannya “emangnya elu, apa aja ada, tinggal pake, tapi elu sia- sia-in”..... Aku menangkap sesuatu... Aku begitu terlena karena negara ku kaya, sampai-sampai tidak peduli dan menganggap apapun ada jadi untuk apa berusaha, toh diambil terus-terusan, sumberdaya alam itu bisa diperbarui (untuk konteks renewable resources)...kalau unrenewable resources habis, toh bisa cari alternativ dan berpindah ke renewable one. Benar-benar pikiran yang tidak bijaksana. Sehingga aku kembali menerima tamparan saat kuliah Global Akuakultur. Jawaban Prof. atas pertanyaanku, kembali menampar wajahku yang manis. Belum lagi tayangan “Orang Pinggiran Trans 7” yang secara tidak sengaja aku tonton di you tube. Aku dulu sangat tidak suka acara tersebut, terkesan menjual kenestapaan orang susah di negeri ku demi menarik penonton. Dan sekarang, menjadi salah satu tontonan favorit.  Saat aku mengira bahwa aku orang paling menderita di dunia....saat makan nasi lauk bakwan wortel sambil menonton wisata kuliner rendang sapi di you tube supaya seolah-olah sedang makan rendang. Merasa teraniaya...beasiswa, oh beasiswa, kapan kamu cair???
Namun, kembali ditampar, aku tidak mengalami sesuatu yang sedih apalagi menderita, dibandingkan apa yang dialami para pelaku di serial “Orang Pinggiran”. Aku masih makan nasi, sedangkan kebanyakan dari mereka makan nasi gaplek (singkong), jagung atau tidak makan sama sekali. Allah SWT menuntunku untuk selalu mensyukuri apa yang aku dapatkan. (Tapi, tetap saja, beasiswa belum turun-turun itu masalah). Menghubungi petugas di institusi berwenang dan memperoleh jawaban “mungkin kalau tidak Maret, April, ditunggu saja Mba, sudah di tanda tangani kontrak pencairannya oleh DIKTI, tinggal menunggu proses pencairannya saja”. Masalah birokrasi memang salah satu masalah akut di negeri ku (pendapat pribadi).
Menarik ketika, mendengarkan para birokrat mengemukakan harapan-harapannya kepada para pelajar yang sedang belajar di luar negeri baik di media cetak maupun elektronik maupun secara langsung, untuk ikut serta menyumbangkan paling tidak pemikirannya demi kemajuan bangsa dan negara...
Para pelajar, tidak disuruh pun akan melakukannya dan bahkan jika disuruh memilih, pulang atau tinggal di luar negeri, saya berani bertaruh bahwa sebagian besar pasti memilih kembali ke tanah air (kembali, pendapat pribadi). Jadi menurut hemat saya, percaya saja kepada kami, para pelajar yang sedang mencari ilmu di negara asing, insyaalloh, kami akan pulang, membangun negara, namun penuhi dulu hak kami secara seharusnya (khusus hal ini berlaku bagi pelajar seperti saya yang menggunakan beasiswa dari negara sendiri). Hal yang ingin aku kemukakan saat acara temu kangen PPI Goettingen kemarin  dengan tema “Indonesia di Tengah Perubahan Global dan Persaingan Antar Bangsa”.
Namun aku terlambat mengikuti presentasi narasumber. Terlambat bersama beberapa rekan yang lain, karena kami sholat Dhuhur. Koreksi bagi PPI  (termasuk saya), seharusnya dalam setiap acara, ada alokasi waktu sholat yang jelas, sebagian besar dari kita, warga PPI Goettingen adalah muslim dan sholat  jamaah bersama di aula MGH sangat mungkin dilakukan. Mengutip perkataan ustad Yusuf Mansur “ Jangan kita menuntut dunia terus padahal ada hak dari Sang Pemilik Dunia yang kita abaikan yaitu sholat”. Hmmm, iya ya, kita warga PPI membahas, berbicara mengenai “Indonesia di Tengah Perubahan Global dan Persaingan Antar Bangsa”,  namun lupa untuk menomor satukan hak Sang Pemilik Indonesia, Pemilik kita, Pemilik semua bangsa dan Pemilik perubahan global. Mudah-mudahan ke depannya kita, warga PPI Goettingen lebih baik lagi...aamiin
“Siapa yang menguatkan Allah SWT, maka Allah SWT akan menguatkannya”
==oo0oo==