Error message

  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).

Apakah Kita (Calon) Ekonom Perusak?: Tinjauan terhadap buku “Confessions of an Economic Hit Man”

Oleh: 

Iqbal Irfany

Salah satu buku ekonomi populer paling kontroversial adalah “Confessions of an Economic Hit Man” yang ditulis John Perkins. Hebohnya buku yang dapatlah diartikan sebagai “Pengakuan Seorang Agen Perusak Ekonomi” ini telah menyita perhatian dunia internasional karena Perkins secara gamblang dan jujur membongkar rahasia dirinya sendiri sebagai mantan agen ekonom perusak (economic hit man, selanjutnya kita singkat EHM). Tentu saja rahasia dan fakta besar adanya konspirasi, penghisapan, pemerasan, pembunuhan ‘perlahan-lahan’, dan ‘penjajahan’ tersembunyi suatu negara terbongkar! 
Buku yang pertama kali diterbitkan oleh Berret-Koehler Publisher, San Francisco, pada tahun 2004 ini secara jelas mengungkapkan upaya sistematis negara adikuasa untuk membuat negara-negara berkembang, seperti Indonesia, bangkrut dan selalu tergantung terhadap negara maju.
Layaknya agen rahasia James Bond, Perkins menceritakan bahwa ia dan kelompoknya bertugas untuk ‘merusak’ dan melemahkan perekonomian suatu negara, khususnya negara berkembang yang potensial dalam menumbangkan current superiority. Tujuannya tak lain agar negara tersebut bisa dihegemoni oleh negara adikuasa. Perkins menceritakan pengalaman pribadinya sebagai mantan agen dalam bentuk novel eksotis dan mencengangkan dimana ia sendiri berperan sebagai tokoh utamanya.
Tugas para EHM adalah untuk mendorong para pemimpin dunia agar menjadi bagian dari jaringan luas yang mengutamakan kepentingan komersial AS dan korporatokrasinya. EHM, melalui aid agencies, misalnya IMF, Bank Dunia, ADB, dan sejenisnya, mendorong negara berkembang untuk berutang (dan terus berutang) jauh lebih besar dari yang mereka butuhkan. Pada akhirnya, para pemimpin itu akan terjerat dalam belitan utang yang akan memastikan loyalitas mereka. Kemudian perlahan-lahan, secara politis dan ekonomis, suatu negara dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, politik, dan militer negara adikuasa. Hasil akhirnya, terjadilah penghisapan (secara ekonomi dan bahkan politis) negara-negara berkembang oleh negara adikuasa melalui penguasaan sumber daya alam, keuntungan rente bunga, proyek yang tidak berkesinambungan, dan sebagainya.
Bagaimana cara kerja Perkins dan teman-temannya? Di mana saja ia bertugas? Jawabannya sangat mengagetkan dan membuat muka kita memerah. Perkins mengutarakan pengalamannya sebagai seorang EHM yang mendapat tugas pertama di negara kita, di Indonesia! Hal ini wajar karena negara kita adalah ‘macan ompong’ atau ‘macan tidur’. Menurut para EHM, walaupun negara kita lemah, jika kalau tidak semakin dilemahkan maka ini akan berbahaya bagi kepentingan negara adikuasa. 
Pada periode 1970-an. Ia bertugas “membantu” PLN membuat ramalan kebutuhan listrik daya yang “over-optimistic”. Para EHM menggunakan cara-cara kotor, penipuan, manipulasi data statistik, tujuannya tak lain adalah agar PLN sebagai perusahaan akan melakukan investasi secara besar-besaran melalui pinjaman luar negeri. Jadi listrik yang Anda pakai saat ini adalah hasil dari berutang dan konspirasi global. 
Itu hanyalah sebuah contoh dan segelintir tugas EHM saja. Masih banyak lagi contoh ‘proyek jahat’ mereka dan hampir dapat dipastikan, semua negara berkembang terjamah oleh EHM. Seorang Perkins saja pernah bertugas setidaknya di lima negara. Di samping Indonesia, Ekuador, Irak, Iran, Saudi Arabia, dan sebagainya. Bayangkan, bila ada 500 orang Perkins saja yang telah dikader, tentu saya yakin semua negara pasti sudah terkena konspirasi jahat ini.
Pertanyaan kemudian mengemuka, benarkah pengakuan Perkins tersebut? Banyak sekali kontroversi dan pro-kontra mempertanyakan validitas pengalaman seorang Perkins sebagai agen dan membeberkan rahasia besar konspirasi. Sekedar up date terbaru, ada seorang insinyur Indonesia, yang sekarang masih bekerja di BUMN, beliau menceritakan pengakuannya sebagai partner John Perkins di Bandung tahun 1970-an (bisa dibaca buku terbaru Kwik Kian Gie (2009), “Indonesia Menggugat”).
Menurut saya, bermaksud husnuddzan, tidak mungkin seseorang yang berkata (menulis) secara detil dan eksotis seperti itu tanpa ia sendiri benar-benar mempunyai pengalaman pribadinya. Saya teringat sebuah ungkapan bahwa “kebohongan akan sangat sulit diutarakan secara detil”. Perkins sendiri awalnya memang sangat ragu dan takut membeberkan rahasia besar ini. Betapa tidak, pastilah kehormatan dan nyawa dirinya dan keluarganya adalah taruhannya. Dorongan hati, pengakuan dan pertobatan atas kesalahannya lah yang membuat ia berani mempertaruhkan apa pun untuk mengungkapkan panggilan hatinya. Ia sendiri menyatakan bahwa “mengakui sebuah masalah adalah langkah pertama ke arah menemukan solusi, dan mengakui sebuah dosa adalah awal penyelamatan”.
Terlepas dari itu semua, konspirasi-konspirasi memang telah nyata dan membuahkan hasilnya, yang pantas membuat EHM dan kroni-kroninya, serta para free rider bertepuk tangan sekencang-kencangnya. Kalau orang bertanya, apakah bukti konkrit keberhasilannya? Pertanyaan tersebut sangatlah retoris yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan lagi, apalagi untuk dijawab! EHM dapat dikatakan telah berhasil, bahkan amat sangat berhasil mencapai tujuannya. Hal ini bisa dilihat secara empiris dari indikator kemiskinan, pemerataan, dan utang luar negeri.
Mengenai indikator kemiskinan dan pemerataan, bayangkan saja, pada tahun 1965, setidaknya sebelum para EHM beraksi secara terorganisir, rasio penghasilan seperlima penduduk dunia di negara-negara paling kaya adalah 30:1, sekarang menjadi 74:1 (Human Development Report, PBB, tahun 2007), dan kalau ini dibiarkan, maka kesenjangan ini akan terus dan terus melebar. Inilah dampak globalisasi dalam memicu kemiskinan jutaan manusia di seluruh dunia, sementara yang lain hidup bergelimang kekayaan. Inikah yang disebut pemerataan? Inikah yang dimaksud keadilan?
Mengenai utang luar negeri, tak usah lah kita susah-susah atau jauh-jauh mencari contoh kasus. Tengoklah negeri kita sendiri. Utang luar negeri sudah menjadi penyakit kronis bagi negeri kita yang terus menjadi pesakitan yang setiap tahun harus diberi infus oleh para 'donor' (halus sekali bahasanya!). Indonesia sudah berada pada tahap dimana utang menjadi kebutuhan bahkan kecanduan. Implikasi terlalu besarnya beban utang, pembangunan tidak bisa berjalan tanpa menarik pinjaman baru. Dalam bahasa yang sederhana, utang baru dipakai untuk membayar utang lama. Gali lobang tutup lobang.
Tahun demi tahun, beban utang dan bunga besarnya lebih dari dua kali lipat belanja modal. Artinya, akibat beban utang yang tinggi, kemampuan untuk membangun tinggal sepertiga dari yang seharusnya bisa dilakukan. Hasilnya, negara tidak mempunyai kemampuan untuk memelihara infrastruktur, memajukan pendidikan dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai. Akhirnya lagi-lagi masyarakat miskin lah yang menjadi objek penderitanya. Hal ini mempertegas ungkapan bahwa people become poor, not because they were poor, but because of poor policy!
Sungguh aniaya para pemimpin negeri ini, rent seeker and in lander mentalism!
Berdasarkan sebuah studi yang sedang dilakukan di International Center for Applied Finance and Economics (Inter-CAFÉ) IPB, kemungkinan pemerintah masih harus melanjutkan kebiasaan gali lobang tutup lobang sampai tahun 2015. Sampai tahun tersebut kondisi anggaran masih akan terkekang oleh kewajiban utang dan karenanya peran pemerintah dalam pembangunan menjadi tidak leluasa. Hal tersebut mengindikasikan pentingnya skema pemotongan utang dan setidaknya peringanan beban utang. Harusnya, upaya-upaya ke arah itu secara serius digarap oleh tim ekonomi. Kalau tidak, bersiaplah terus menjadi pengemis setiap tahunnya sampai sepuluh tahun yang akan datang. Sungguh mirip seorang peminta-minta yang membawa batok kelapa dan menggadaikan harga diri demi uang recehan.
Ya sudahlah, sekarang janganlah menyalahkan EHM. Sebagai bagian dari bangsa pesakitan dan secara laten ‘tertindas’, marilah kita introspeksi diri kita sendiri. Sebagai bagian dari ‘pelaku’ globalisasi, bertanyalah pada diri pribadi, apakah kita sudah merasa terperangkap dalam jebakan EHM, minimal dari sisi wacana dan mindset. Atau bahkan jangan-jangan kitalah sejatinya penjelmaan EHM itu sendiri!! Perlu diingat, tugas EHM memang dari ‘sononya’ hanya menyulutkan, yakni membuat dan menciptakan kader EHM sukarela yang tidak sadar mereka sebenarnya adalah EHM. Dengan demikian semakin banyaklah lahir EHM-EHM baru bak jamur di musim hujan.
Waspadalah dan mawaslah, sebab penjelmaan EHM tidaklah hanya berupa agen-agen terlatih, tapi boleh jadi justru menjelma dalam manifestasi yang lain, EHM saat ini bisa saja berupa seorang politisi, pembuatan kebijakan yang tidak pro-rakyat, pengusaha dan pelaku bisnis pemeras dan lintah darat, atau bahkan mahasiswa robot ekonomi yang tidak mempunyai sense of responsibility. Sebagai generasi muda pembelajar, secara eksplisit atau implisit, jangan-jangan kitalah calon-calon EHM? Jangan-jangan institusi pendidikan kita hanyalah pencetak EHM-EHM baru? Pencetak ekonom dan pelaku ekonomi yang bersikap oportunis dan menghisap rakyat? Pencetak kader-kader laten EHM, pencetak calon penguasa yang akan mengeluarkan kebijakan picik demi kepentingan pribadi dan tidak peka terhadap lingkungannya. Mudah-mudahan saja tidak... 
Untuk itu, marilah kita semua melakukan introspeksi dan tidak tinggal diam, sebagai kaum muda intelektual di belahan bumi ini tentu sepantasnya menjadi aktor sejarah menuju tatanan peradaban yang lebih baik…
Demi sebuah keadilan, banyak hal mesti dirubah di dunia ini…

Source: Facebook Note Iqbal Irfany