Error message

  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).
  • Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/ff-sh3-jm.php:1) in drupal_send_headers() (line 1236 of /customers/f/f/a/ppi-goettingen.de/httpd.www/includes/bootstrap.inc).

Diskusi Kemiskinan dan Ketenagakerjaan: Refleksi 2 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK

Salam Perhimpunan!

Ada kabar terbaru memasuki musim winter ini dari warga Goettingen,

Pada hari Sabtu 5 November 2016 PPI Goettingen kembali mengadakan diskusi santai yang bertempatan di Mahatma Gandhi Haus, dengan narasumber Bapak Ardi Adji, Ibu Sri Hartini, Ibu Nurhemi dan Ibu Meilisa Hardjani. Topik yang diangkat kali ini adalah ‘’Situasi Permasalahan Kesejahteraan dan Upaya Mengatasinya (Refleksi 2 Tahun Pemerintahan Jokowi - JK)’’. Pemaparan materi dilakukan oleh Bapak Ardi Adji yang sejak tahun 2011 bekerja di ‘’Tim Nasional Percepatan Penanggulan Kemiskinan’’ atau yang disingkat TNP2K. Jalannya keseluruhan diskusi di moderatori oleh Bapak Ferry Prasetya, mahasiswa doktoral Program Universitas Kassel. 

Pemaparan dibuka dengan penjabaran dua mandat utama yang menjadi akar permasalahan kemiskinan, yaitu :

Data

Mekanisme implementasi program

Tingkat kemiskinan di Indonesia pada tahun 2016 berada pada titik 10,86% yaitu sejumlah 28,01 juta penduduk. Sedangkan hanya 0,6% dari penduduk Malaysia yang berada dibawah garis kemiskinan. Malaysia sendiri menggunakan pendapatan atau income sebagai alat tolak ukur kemiskinan. Dimana jika metode ini di terapkan di Indonesia, akan ada sekitar 20% dari penduduk Indonesia yang dikategorikan miskin. 

Persentase indikator pengukur garis kemiskinan dibagi sebagai berikut :

65 % Makanan

35 % Lain - Lain

20 % Beras

Dari data tersebut terlihat jelas bahwa beras mengambil andil dalam perekonomian penduduk Indonesia. Jika harga beras naik sebesar 10%, maka tingkat kemiskinan Indonesia akan naik sebesar 0,8%. Faktor inilah yang sempat dikesampingkan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika pada tahun 2014 dikeluarkan wacana penghapusan beras miskin (Raskin) yang tentu saja menimbulkan banyak kontra.

Harga beras di Indonesia sendiri dapat digolongkan dalam kategori mahal yaitu Rp. 13.000/kg. Namun walau harga beras tinggi, nilai tukar petani di Indonesia masih tergolong rendah. Akar permasalahannya terletak pada produktivitas dan kurangnya akses terhadap pendapatan oleh petani Indonesia. 

Seperti yang kita ketahui ketimpangan antara masyarakat miskin dan kaya di Indonesia sangatlah kentara. Menurut data dari TNP2K, ketimpangan di Indonesia mencapai angka 0,41%.  Pertumbuhan perekonomian penduduk miskin jauh lebih lambat dibanding penduduk kaya, yang dimana penyebabnya adalah : 

1. Perbedaan tingkat pendidikan

2. Kualitas pekerjaan 

3. Tingginya konsentrasi kekayaan

4. Lemah terhadap guncangan

Selain itu, sebanyak 7% pengangguran di Indonesia, bukanlah pengangguran yang tidak kompeten, melainkan mereka yang menunda untuk bekerja. Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki bonus demografi, namun tidak bisa memanfaatkan hal tersebut dengan maksimal. Mayoritas dari penduduk Indonesia adalah tamatan SMK, yang dimana sering kali tidak sesuai dengan permintaan yang dibutuhkan. 

Masalah kemiskinan di Indonesia sudah menjadi suatu permasalahan yang berakar. Kemiskinan di Indonesia sudah seperti komoditi yang diperjual belikan. Komoditi itu sendiri tidak lain dari APBN. Sebagai contoh adalah Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang banyak tidak tersalurkan karena kurangnya sosialisasi kepada warga.

Setelah membahas masalah dan alasan kemiskinan di Indonesia, Bapak Ardi kemudian memaparkan solusi untuk menurunkan angka kemiskinan, yakni :

1. Menurunkan beban pengeluaran

2. Menaikkan pendapatan

Hal ini tentu saja dapat dicapai bila kita bisa memperbaiki cara implementasi program yang kurang efektiv. 

Setelah pemaparan materi, Ibu Sri Hartini, seorang peneliti di Badan Pusat Statisik Indonesia (BPS) sejak tahun 1990 menyinggung permasalahn otomatisasi, yang akan kita hadapi dalam kurun waktu singkat. Otomatisasi akan menjadi tantangan baru bagi Indonesia karena lapangan kerja akan semakin sulit. Satu pertanyaan yang patut kita semua pertimbangkan adalah ‘’Bagaimana Indonesia memberdayakan supply tenaga kerja yang melimpah, agar tidak kalah oleh mesin ?’’ 

Ibu Nurhemi yang melakukan penilitian di bagian Ketenagakerjaan di Asean memaparkan bahwa diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tidak menjamin banyaknya tenaga kerja Indonesia yang akan mendapat perkejaan dikarenakan kurangnya daya saing. Sedangkan negara - negara tetangga Asia Tenggara sudah terlebih dahulu dari Indonesia dalam mempersiapkan tenaga kerjanya untuk bersaing dalam pasar terbuka tenaga kerja. Yang harus diperhatikan pemerintah adalah pekerja yang masuk dalam kategori non-skill and uneducated. 

Setelah sesi tanya jawab Bapak Deniey Purwanto, mahasiswa Universitas Goettingen juga menambahkan beberapa informasi sebagai penutup. Bahwa sebenarnya saat survey dilakukan, Input (Pendapatan) dan Output (Pengeluaran) ditanyakan. Namun alasan kenapa Indonesia memilih pengeluaran sebagai tolak ukur pengukuran tingkat kemiskinan karena, jawaban pengeluaran masyarakat lebih tidak bias. 

Untuk info yang lebih jelas dan juga data terkait diskusi ini bisa dilihat di www.tnp2k.go.id

Semoga diskusi kali ini dapat bermanfaat dan mendorong semangat kita semua untuk menyelesaikkan masalah di Indonesia.

Salam Perhimpunan !

ttd

Adminit PPI Goettingen